Hukum Snellius

Posted on

Hukum Snellius – Terdapat banyak fenomena alam terjadi karena disebabkan oleh sifat cahaya. Salah satu contoh misalnya seperti adanya pelangi, yang mana itu merupakan fatamorgana dari gerhana dan sebagian darinya.

Nah sobat edmodo semua, pada perjumpaan kita kali ini, edmodo akan menerangkan materi pembahasan yang berkaitan dengan reflaksi atau lebih dikenal dengan hukum snellius.

Definis dari pada Hukum Snellius sendiri ialah merupakan sebuah rumus yang kerap dipakai guna menerangkan adanya suatu hubungan antara setiap sudut dari sebuah peristiwa dan pembiasannya.

Pada umumnya hubungan itu berlangsung pada saat mengacu mengenai cahaya atau gelombang lain yang masuk melalui batas diantara dua media isotropik yang masing – masing saling berbeda, misalnya seperti air dan gelas.

Kemudian didalam optik, pada umumnya hukum snellius kerap dipakai untuk menelusuri sinar agar dapat menentukan sudut dari pada insidensi atau refraksinya, sedangkan didalam optik eksperimental hukum ini kerap dipakai guna mendapatkan indeks bias dari suatu material.

Kemudian Hukum ini juga bisa langsung berinteraksi terhadap bahan metam, artinya yang dapat memantulkan atau membuat cahaya menjadi bengkok ” pada sebuah sudut refraksi yang bersifat negatif dan juga dengan indeks bias yang negatif pula.

Rumus Hukum Snellius

Hukum Snellius
Hukum Snellius

sin θi/ sin θt = n2/n1

Untuk mendapatkan suatu persamaan Snellius maka hal tersebut bisa diperoleh melalui sebuah prinsip fermat yakni dimana pada suatu sinar yang merambat, yang mana hal tersebut bisa berlangsung antara dua titik dan juga memerlukan selang waktu terkecil.

Dengan demikian, hal tersebut akan menyebabkan sinar akan akan mengalami perabatan secara lurus terhadap medium yang mempunyai indeks bias yang tetap.

Bisa Juga dengansin θ1/sin θ2 = v1/v2 = n2/n1
ataun1 sin θ1 = n2 sin θ2
atauv1 sin θ2 = v2 sin θ1

Keterangan:

Jadi pada lambang θ1 dan θ2, hal itu mengacu terhadap sudut yang datang dan juga sudut biasnya.

Sedangkan v1 dan v2 merupakan keterangan dari pada kecepatan cahaya sinar yang datang dan sinar biasnya.

Kemudian pada lambang n1 hal itu mengacu terhadap indeks bias medium yang semula dilalui dengan sinar yang datang, lalu pada n2 ialah merupakan indeks bias medium yang dilalui oleh sinar bias.

Contoh Hukum Snellius

Dalam hal ini apabila anda ingin menguji atau mengukur mengenai berapa jauh mana kurva atau pembiasan berlangsung apabila arah cahaya dari pada balok mengalami pergerakan dari satu dukungan ke dukungan lainnya.

Maka anda bisa menggunakan indeks bias (frekuensi refraksi = refraksi pointer).

Dimana pada dasarnya Indeks bias absolut dari suatu zat ialah merupakan rasio antara kecepatan cahaya yang berlangsung di dalam ruang hampa dan juga kecepatan cahaya yang ada di dalam zat tersebut.

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Sebab mungkin kita sudah hampir melihat sinar yang mana dalam sehari-harinya mengalami pergerakan dari satu medium ke medium lainnya,

Kemudian indeks bias ialah merupakan suatu rasio yang ada diantara kecepatan cahaya dalam zat-zat ini.

Misalnya saja seperti suatu cahaya yang mengalami pergeseran dari zat A menuju ke zat B, sehingga dengan pergerakan tersebut indeks biasnya bisa kita rumuskan sebagai berikut.

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Untuk menentukan Indeks bias dari suatu media maka yang dapat anda lakukan jika kecepatan cahaya pada tiap – tiap media telah diketahui adalah.

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Dalam hal ini sebab cahaya ialah merupakan salah satu jenis gelombang elektromagnetik yang mempunyai frekuensi yang sangat panjang gelombangnya, di bawah ini merupakan rumus gelombang yang berlaku untuk cahaya yakni sebagai berikut ;

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Setelah kita menguraikan rumus gelombang dari frekuensi cahaya , maka sudah kita ketahu bahwa indeks bias cahaya dari zat A ke zat B ialah sebagai berikut :

Hukum Snellius

Contoh Kejadian Hukum Snellius

Dalam hal ini zat atau media optik yang mempunyai indeks bias yang sangat tinggi bisa disebut sebagai zat padat, kemudian apabila media yang mempunyai indeks bias yang kecil bisa disebut lemah atau tidak padat.

Pada umumnya terdapat tiga yang dianggap menjadi kemungkinan terjadinya kasus refraksi, yang diantaranya adalah :

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Apabila kita perhatian rangkaian mekanisme dari pada gambar diatas dimana sinar yang datang dari sebuah zat optik yang lemah atau kurang padat menuju ke zat optik lebih dekat, kemudian akan dibiaskan tepat di dekat garis normal.

Kemudian pada cahaya yang pada awalnya berasal dari suatu bahan optik yang lebih dekat, lalu zat optik yang kurang tersebut dibiaskan dengan garis normal.

Sedangkan pada cahaya yang berada tegak lurus yang berada pada sebuah bidang perimeter akan diteruskan tanpa adanya pembiasan.

Contoh Bunyi Hukum Snellius

Pada awalnya pembiasan sinar ini mulai dikembangkan dan dipelajari oleh dua orang ahli Willebrod Snellius dan Willebrod van Roijen, kemudian setelah memperoleh hasil, maka kemudian hasilnya dinyatakan dengan hukum Snellius yakni seperti berikut.

Apabila ada bila ada cahaya yang masuk, lalu cahaya refraksi dan garis normal tersebut akan terletak pada sebuah bidang datar.

Kemudian Perbandingan proyeksi terhadap cahaya mendekakti dan jari-jari pembiasan yang mempunyai ukuran panjang yang serupa berada di suatu ruang batas antar 2 zat yang sangat bening dan hal tersebut adalah jumlah tetap.

Nah Rasio yang tetap inilah dikenal dengan indeks bias yang terjadi diantara dua zat.

Hukum Snellius
Hukum Snellius

Contoh Soal dan Jawaban Hukum Snellius

1. Ada salah seorang yang tengah memancing ikan, ia duduk disebuah sedang perahu, kemudian tepat di bawahnya dia menyaksikan ada seekor ikan yang kebaradaannya berjarak 2 meter di bawah permukaan air.

Mak jarak lokasi dari pada ikan tersebut yang di ukur dari permukaan air yang sebenarnya ialah?

Jawaban:

Kejadian ini dikenal dengan sebuah kejadian kedalaman yang semu, misalnya saja seperti pada saat kita akan melihat dasar dari pada permukaan kolam, maka kola tersebut akan terlihat seperti cetek atau dangkal dengan kondisi yang sebenarnya.

Nah apabila anda aingin menyelesaikan soal ini, maka anda dapat menggunakan sebuah rumus kedalaman semu yang sudah edmodo.id sediakan di bawah ini.

Namun dengan adanya dengan peristiwa ini, terutama biasanya seorang pengamat akana mendapatkan adanya suatu objek yang tegak lurus yang terlihat dari permukaan medium.

h′/h = n2/n1
  • n1 = merupakan keternagna indeks bias dari tempat keberadaan benda
  • h’ = Merupakan lambang dari pada kedalaman semu
  • h = Merupakan lambang dari pada kedalaman yang sesungguhnya

Maka dengan penerapan rumus diatas kita dapat menentukan atau melakukan penghitungan seperti yang edmodo.id uraikan sebagai berikut : Kita bisa hitung seperti tertulis pada persamaan di bawah ini

h = n1/n2 h′ = (4/3)/12 = 2,67 m

Maka dengan hasil dari perhitungan diatas dapata kita temukan bahwa jarak ikan sesungguhnya dari pada ikan dari permukaan air ialah = 2,67 m.

Contoh Soal No 2.

2. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Budi mengenai suatu cahaya yang ada di sepotong kaca di dalam indeks pembiaasan 1.5 . Kemudian cahaya tersebut mengarah ke dalam air dengan mempunyai indeks pembiasan sekitar 1.33.

Nah apabila sudut dari pada cahaya tersebut memiliki ukuran sebesar 30°, Jadi berapakah sudut dari pada pembiasan yang berlangsung terhadap air?

Jawaban:

  • Jadi 1.5 x sin 300 = 1,33 x sin r
  • Kemudian Sin r = (1.5/1.33) sin300
  • sin r = (1,1278) (1/2)
  • sin r = 0,56
  • r = arc sin 0,56 = 340

Dengan demikian dapata kita simpulkan bahwa mengenai berkas dari cahaya ini mempunyai sudut bias berukuran sekitar 34°.

Dalam hal ini berdsarkan penyesuai yang dilakukan dengan menggunakan penerapan dari hukum snellius, jadi berkas akan menjauh dari garis yang semestinya atau normal etika berkas tersebut yang pada awalnya diperoleh dari medium kaca hingga diahantarkan ke medium air.

Sekian dulu ya sob, semoga ulasan diatas bisa membantu sobat semua.

Baca Juga :